Assalamualaikum sistersm this
time HiStory came from my friend Pipin,
we once
met at a mall in
Jakarta and spent time for lunch and chat. I think that she has really a hijab exciting experience,
and i'm very impressed with her activities in theater. Let’s
read the full story…
Cerita
untuk Street Hijab
Saya dan jilbab memiliki
hubungan yang unik. Saya berkenalan dengannya saat saya masih kelas XI SMA, simply hanya karena saya tidak suka jika
betis saya terlihat saat memakai rok SMA yang panjangnya selutut. Kok betis? Ya,
betis saya X-Large besarnya dan saya gak nyaman kalau teman-teman malah
memperhatikan betis saya dan bukannya muka saya kalau mengobrol. Hahaha. Saya
mau pakai rok panjang tapi sekolah tidak memperbolehkan rok panjang dikenakan
tanpa jilbab. Akhirnya saya pilih memakai jilbab saja, deh.
Ada akhiran “deh” dalam
cerita saya, menandakan bahwa saya memang berkenalan dengan jilbab secara “terpaksa”.
Ini membuat saya masih Lepas-Pakai-Jilbab dalam masa itu. Hingga setelah saya
lulus SMA, takdir saya bertitah, “Irviene, kamu harus merantau dari Kota Malang
ke Jakarta untuk bersekolah lebih tinggi!”. Di sinilah saya, di Jakarta, saya baru
bisa memaknai lebih dalam jilbab saya.
Di Jakarta, saya -yang bisa
dibilang hidupnya masih selebar daun kelor ini- seakan melihat dunia yang sama
sekali berbeda. Saya sungguh terkagum-kagum melihat bagaimana seharusnya
seseorang seusia saya harus berpakaian. Di sini, semua terlihat begitu stylish.Begitu modis. Dengan platform high heels-nya, dengan cut out tee-nya, dengan statement accessories-nya, orang-orang
Jakarta ini terlihat begitu… gaul. Hahaha. Di sini pula saya melihat bagaimana
orang terlihat begitu hectic, begitu bekerja
keras untuk meraih sesuatu, dan itu juga hal yang membuat saya kagum. Saya
merasa seperti Alien dari Mars yang datang ke Bumi. Mungkin si Alien yang gak
tau apa-apa ini perlu adaptasi.
Harus saya akui, memakai
jilbab membatasi saya memakai fashion
items tertentu, seperti celana pendek atau cut out T-Shirt yang bolong-bolong. Memakai jilbab juga membatasi
saya untuk melamar kerja sambilan di
beberapa perusahaan (yang sebenarnya cukup menggiurkan). Apalagi, di kampus,
saya mengikuti UKM seni teater yang mengharuskan saya tampil dengan peran yang
berbeda-beda. Saya menikmati teater, tapi tahu sendiri, kalau saya berperan
jadi “Cinderella” atau “Siti Si Cewek Genit”, atau bahkan “Arjuna Si Charming yang Ganteng” kayaknya gak mungkin memakai
jilbab. (Sejak kapan Cinderella jadi mu’allaf?
Saya jadi dilanda ketakutan.
Jika saya tetap memakai jilbab, saya gak bisa pakai baju yang lucu-lucu
layaknya anak gaul sehingga saya akan tetap jadul, saya tidak bisa apply kerja di banyak perusahaan,
dan saya tidak bisa berkarya di bidang
yang saya sukai! Saya galau. Galau dan galau. Saya jadi berpikir, “Apakah saya
harus melepas jilbab?”
Beruntung, saya memiliki
pemahaman sejak lama, bahwa segala jenis ketakutan tidak boleh menjadi dasar
dari segala pengambilan keputusan, termasuk keputusan seperti ini. Jadi, saya
curhat dengan seorang teman, dan ia berkata, “Coba tanya diri sendiri.. apa
iya, setelah hampir tiga tahun berjilbab, jilbabmu itu masih hanya untuk
betismu?”
Wow. Ia benar. Mengapa saya
tetap bertahan memakai jilbab bahkan setelah saya tidak harus pakai rok SMA
yang selutut lagi? Saya jadi sadar bahwa walaupun pada mulanya tidak dimulai
dari sebuah kesiapan, memakai jilbab membuat niat saya berkembang, entah
bagaimana caranya. Niat “mengasihi betis saya”
berkembang lebih besar. Sekarang, saya memakainya karena mengasihi calon suami
saya yang seharusnya nanti hanyalah menjadi satu-satunya laki-laki yang boleh
melihat aurat saya. Saya mengasihi orang tua saya yang khawatir anak gadis
semata wayangnya ini kenapa-kenapa di tanah rantau. Bahkan, saya mengasihi
pria-pria yang jika saya tidak berjilbab akan melihat aurat saya dan mereka
menjadi berdosa karenanya. Juga, saya jadi lebih mengasihi diri sendiri karena
rasa hormat pada diri sendiri timbul atas penghargaan atas aurat saya. Terakhir
sekaligus juga yang terpenting, saya merasa lebih mengasihi Allah, Sang Maha
yang begitu menyayangi dan mengasihi saya.
Sejak adanya kesadaran itu,
saya tidak terpikir lagi untuk melepas jilbab. Saya tahu saya merasa bahagia
karenanya. Malahan, saya jadi lebih percaya diri jika memakai kerudung di atas
kepala saya ini. Segala permasalahan dunia? Segala fashion items, segala lamaran pekerjaan, dan segala teater bisa
saya “akali” dengan berbagai cara. Bahkan, saya berkarya di berbagai bidang
secara lebih banyak! Saya jadi ingat film School
of Rock yang berpesan, “Rock ‘n Roll is about against THE MAN and get your own
way”. Arti ‘The Man’ sendiri adalah sesuatu yang berkuasa atas diri kita,
sehingga suara hati diri sendiri tidak kedengaran. Dulu, segala pikiran saya
tentang fashion, perusahaan, dan
teater, itu adalah ‘The Man’ saya. Sekarang? Jangan ditanya.
Saya percaya, seperti
hubungan antara betis dan jilbab saya, langkah awal memang tidak pernah
sempurna, dan itu tidak apa-apa. Yang terpenting, di langkah selanjutnya selalu
ingat untuk tidak membiarkan ‘The Man’-mu merenggut kebahagiaan atas langkah
itu!
Makasih.
Salam,