Assalamualaikum semuanya.
Saya Nazura. Saat ini sedang melanjutkan studi S2 di United Kingdom. Saya mau berbagi cerita berhijab saya yang sempat terlintas ketika sebelum saya pindah ke UK.
__________________________________________________
Beberapa waktu lalu saya sempat bertemu dengan dua teman lama. Pertemua saya yang pertama ditemani dengan salah satu sahabat lama yang bisa dikatakan belum lama menggunakan hijab. Dari berbagai obrolan kami, akhirnya ia melontarkan satu pertanyaan "Zu, lo sampe sekarang masih ada kepikiran buat buka jilbab nggak?" Saat itu saya hanya tersenyum sebelum memberikan jawaban. Hampir sebulan setelahnya, saya bertemu dengan salah satu sahabat saya yang kenal dari waktu dan tempat yang berbeda dari sahabat saya yang sebelumnya. Dari berbagai topik obrolan yang kami bicarakan, ada satu pertanyaan yang ia berikan "Zu, lo kalo udah di Inggris bakalan buka jilbab nggak?" Dan kali ini saya bukan hanya tersenyum, tetapi tertawa.
Sangat mudah sebenarnya menjawab pertanyaan yang sudah familiar di telinga saya, yang sudah dilontarkan dari berbagai mulut yang berbeda. Sulit adalah ketika harus meyakinkan orang lain tentang sesuatu hal yang saya sendiri saja baru bisa meyakinkan diri setelah beberapa tahun menjalaninya.
Jadi tak ada salahnya kalau masih banyak orang yang mempertanyakan keteguhan saya dalam memakai hijab ini, hehehe. Sebelum diberikan pertanyaa-pertanyaan tersebut, sejujurnya engga pernah terlintas lagi untuk membuka hijab, sekali pun nanti ketika saya tinggal di negara yang mayoritas penduduknya bukan Muslim.
_______________________________________________
Berawal dari sepuluh tahun yang lalu. Saat saya masih duduk di kelas 1 SMP. Saat itu seperti biasanya, setelah les matematika dengan guru private saya, kami melakukan ritual yang hampir selalu kami lakukan seusai les, yaitu shalat ashar berjamaah dilanjutkan dengan obrolan ringan seputar agama. Hari itu topik yang diangkat oleh ibu guru adalah kewajiban untuk menutup aurat bagi perempuan. Intinya, dari pembicaraan itulah saya benar-benar bertekad jika nanti saya sudah baligh (baca: menstruasi) saya akan langsung menggunakan hijab.
Engga lama sejak pembicaraan kami sore itu, akhirnya sampailah waktu di mana saya sudah dinyatakan baligh. Setelah membicarakan dengan orang tua dan meyakinkan diri saya kembali, akhirnya beberapa minggu kemudian saya pun sudah menutup aurat seperti yang diajarkan dalam Islam.
Awal saya memakai hijab ini engga berjalan semudah yang saya bayangkan. Tekanan sempat terasa dari berbagai pihak. Mulai dari orang tua saya yang sempat meragukan keputusan saya dan khawatir jika suatu saat saya akan membuka kembali hijab saya dikarenakan usia saya yang pada saat mengambil keputusan tersebut masih sangat muda, yaitu 11 tahun.
Bukan hanya itu, tekanan juga terasa dari teman-teman saya. Ada beberapa dari mereka yang mulai menjauh karena saya menggunakan hijab, bahkan ada yang bilang kalau saya sok suci. Tapi mungkin karena saat itu saya benar-benar sudah yakin dan keputusan memakai hijab juga sepenuhnya dari diri saya, jadi pendapat orang saat itu saya terima dengan "masuk telinga kanan keluar telinga kiri" aja.
Setelah melewati masa transisi dari sebelum ke setelah memakai hijab, dua tahun setelahnya saya lalui dengan baik. Walaupun terkadang saat melihat teman-teman saya lainnya yang belum memakai hijab, masih terlintas di pikiran saya bahwa mungkin dengan engga memakai hijab bisa lebih menyenangkan dan bebas berekspresi. Tetapi dengan cukup banyaknya teman saya yang menggunakan hijab dan sempat berada di lingkungan anak-anak rohis, pikiran saya ini engga sampai membuat ingin melepas hijab ini.
Bertahun-tahun saya memakai hijab, masa terberat yang saya lalui adalah selama saya duduk di bangku SMA. Mulai dari minggu pertama masuk sampai minggu terakhir sekolah, sudah enggak terhitung beberapa kali saya ingin mebuka hijab. Kenyataan yang lebih parah adalah saya juga sempat merasa hijab yang saya kenakan saat itu bahkan menjadi penghalang saya dalam bergaul dan benar-benar menurunkan rasa percaya diri saya.
Sampai akhirnya pada suatu hari ketika saya seorang diri sedang menunggu hasil pemeriksaan dokter di suatu rumah sakit. Seperti biasanya, saya melamunkan banyak hal, sampailah saya memikirkan tentang rencana saya membuka hijab. Saat itu saya membulatkan tekad untuk melepas hijab begitu saya mulai masuk kuliah.
Engga lama setelah itu, sekitar sepuluh menit kemudian, saat saya sedang memfotokopi hasil pemeriksaan dokter, tiba-tiba tanpa adanya interaksi apa pun sebelumnya, si penjual kacamata di sebelah tempat fotokopi tersebut mengatakan hal yang mengubah total pemikiran dan tekad saya sebelumnya. "Mbak, mbak udah cantik kaya gitu. Pake jilbab. jangan dilepas ya mbak" katanya sambil tersenyum. Mungkin kalau sebelumnya saya engga memiliki keinginan untuk melepas hijab saya, mungkin perkataan mas penjual kacamata itu engga akan segitu membekasnya di ingatan saya.
Kejadian saat itu benar-benar menyadarkan saya akan satu hal, yaitu Allah masih begitu sayang sama saya. Kalau bisa diibaratkan, saat itu saya sudah berada di ujung jurang dan saat itu juga Allah langsung memberikan cara untuk menyadarkan saya. Bukan sekadar itu, tetapi memberikan hidayah-Nya. Seandainya saya masih punya pemikiran untuk melepas hijab setelah kejadian itu, kayanya saya akan menjadi manusia paling bodoh yang ada di dunia ini.
Pikiran saya simpel saja, saya mengenal banyak orang yang terlihat lebih baik dibanding saya, tapi sampai saat ini belum memakai hijab. Itu hak mereka masing-masing dan pastinya ada pemikiran tersendiri. Mungkin mereka ingin saat memakai hijab nanti mereka benar-benar berperilaku seperti seorang muslimah yang diajarkan oleh Islam.
Bagaimana pun orang memandang hijab, saya yakin setiap orang punya cara dan pikirannya masing-masing. Satu contoh sederhana adalah ketika kebanyakan orang belajar supaya bisa "sempurna" baru kemudian mengenakan hijab, justru saya belajar banyak dari hijab supaya bisa menjadi orang yang lebih baik.
Sekian cerita dari saya. Semoga bisa saling menginspirasi ya :)
Nazura Gulfira (nazuragulfira. blogspot.com)
Wassalamualaikum :)
Salaam,
Xoxo
Streethijab
Salaam,
Xoxo
Streethijab

Tidak ada komentar:
Poskan Komentar