Minggu, 27 Januari 2013

HiStory: Hijabi Story from Rina Ellisa



Assalamualaikum 


Saya Rina Ellisa dari Malaysia.. Salam kenal dari saya..  Di sini, saya tertarik ingin berkongsi cerita saya berhijab.. Saya mula pakai hijab (tudung) mula dari darjah 3 (jikalau ku tidak silap).. My mom memang bertudung.. 

So, secara automatik saya jugak mahu mengenakan tudung apabila mahu keluar dari rumah..
Mula dari umur 9 tahun sehingga umur 18 tahun, hanya tudung bawal saja yang kupakai.. Sehingga apabila masuk ke alam pembelajaran yang lebih tinggi dan mula bekerja sudah banyak fashion-fashion tudung.. Dari situ, saya mahu mencuba fashion tudung yang terkini..

Alhamdulillah, sehingga kini umurku 23 tahun masih mengenakan hijab untuk kemana-mana.. Dan mengharapkan, masa masa akan datang ku akan menggenakan hijab lagi lebih sopan dan trendy..


Thanks Kakak Dhatu..
Salam dari peminat mu di Malaysia..
myblog : http://memorintorinaellisa.blogspot.com/


Wassalamualaikum
Rina Ellisa


Salam,

Xoxo
streethijab


Sabtu, 26 Januari 2013

HiStory: Hijabi Story from Jetrani Reza Dias


Assalamualaikum :)

Namaku Jetrani Reza Dias. Saya berasal dari Yogyakarta. Usiaku sekarang 24 tahun. Terima kasih kepada mbak Dhatu yang cukup menginspirasikan saya bahwa menggunakan hijab bukan berarti kita tidak bisa tampil modis. :)



Aku mulai menggunakan hijab sejak tahun 2007. Namun waktu itu aku hanya menggunakan hijab ketika pergi ke kampus, sedangkan ketika pergi jalan-jalan atau kegiatan di luar kampus aku masih sering melepas hijab. Hal itu berlangsung selama sekitar 1 tahun. Teman-temanku di kampus pun cukup banyak yang seperti aku, jadi hanya berhijab ketika di kampus dan melepaskannya ketika di luar. Aku sendiri tidak pernah memberikan komentar karena aku sadar, aku pun tidak lebih baik dari mereka.

Jika kuingat-ingat, pada awalnya aku menggunakan hijab bukan karena berniat menggunakan hijab, namun karena coba-coba. Selain itu aku memang malas harus mengatur gaya rambut setiap hari karena rambutku juga susah diatur. Jadi bukan karena benar-benar sudah sadar bahwa berhijab wajib hukumnya bagi para muslimah di seluruh dunia.

Ketika itu pun gaya berhijab belum seperti sekarang. Pilihannya hanya yang instan atau berbahan paris saja dengan model dilipat segitiga lalu diberi peniti atau jarum pentul di tengahnya untuk mengikat. Cukup praktis ya, hehe.

Hingga akhirnya setelah satu tahun "bongkar pasang" hijab, aku mulai memutuskan untuk sepenuhnya menggunakan hijab baik untuk ke kampus ataupun di luar kampus. Di kampus aku memiliki 3 sahabat karib yakni Mibo, Nenq, dan Woel. Mibo sudah sejak awal berhijab, sedang Nenq dan Woel alhamdulillah sudah 1 tahun belakangan  turut menggunakan hijab. Meski kami berteman dekat, namun ada yang tidak pernah kami lakukan, yakni saling menyarankan untuk berhijab. Tentu saja kami sadar itu salah. Namun bagi kami, berhijab itu harus berasal dari niat dalam diri sendiri. Memang, nasihat dan saran akan makin mendorong munculnya kesadaran tersebut. Tapi apa gunanya jika tampak luar mereka berhijab, namun di dalamnya tidak.

Tentu saja hingga saat ini pun, meski sudah menggunakan hijab, aku masih merasa belum bisa sepenuhnya disebut orang beriman. Terkadang aku masih suka melewatkan shalat karena ketiduran, malas, dan banyak hal-hal buruk lainnya. Namun semua itu adalah proses. Sebuah perjalanan panjang untuk menjadi insan yang lebih baik selalu diawali dengan satu langkah kecil. Kita bisa memulainya dengan berhijab.

Akhirnya, terima kasih sekali buat streethijab yang sudah memberikan banyak inspirasi untuk para muslimah supaya menjadi lebih baik lagi dalam berhijab.

Wassalammualaikum..





Salam,
 
xoxo
streethijab

HiStory: Hijabi Story from Nabila Ariani "Indahnya Berjilbab"




Assalamualaikum ukhti, 

Nama saya Nabila Ariani, mau juga berbagi cerita tentang berhijab ukhti :)

          Dear Hijab story yang menginspirasi. Saya berasal dari Semarang, seluruh keluarga besar saya lekat sekali dengan Islami. Hampir seluruh wanita di keluarga besar saya memakai jilbab. Waktu itu saya masih duduk di bangku SMA, selalu ada pengajian keluarga rutin setiap 1 bulan sekali. Sampai diotak saya masih teringat sekali sewaktu berdiskusi dengan isi kultum yang membicarakan tentang jilbab. Waktu itulah saya mulai berpikir ingin sekali untuk memakai jilbab. Tapi hati rasanya masih sangat berat untuk melakukannya karena masih suka dengan dunia fashion, masih sering ambil job yang menuntut saya untuk tidak memakai jilbab. Yah, itulah yang membuat saya begitu berat. Berpikir dan berpikir nanti saja memakainya, saat saya masuk kuliah. Saya bertanya sama papa dan mama "ma, pa, kalo Nabila pakai jilbab gimana?" kataku. "ya bagus kalau begitu", kata mama. "terserah kamu saja, papa senang. kalau memang sudah yakin pakai saja. papa nggak mau lihat kamu berjilbab tapi dilepas-lepas", kata papa. Senang rasanya mendengar jawaban mama dan papa dengan tersenyum danbegitu mendukung saya.

Waktu berlalu hanya keinginan yang saya bawa didalam hati untuk memakai jilbab. Yap, sampai akhirnya saya kuliah di Bandung belum terlaksana juga untuk berjilbab. kakak sayalah yang selalu menghubungi saya via telepon, cerita banyak hal salah satunya menyindir saya kapan untuk memakai jilbab. Malu rasanya untuk menjawabnya, hanya jawaban belum siap yang selalu saya lontarkan. "Jangan bilang nggak siap dek, semua itu harus dipaksakan. Nanti kamu juga terbiasa kok, Ayo pake nanti mas beri hadiah deh", kata kakak. Tersipu malu "eh eh, hadiah apa mas?, jawabku. "Rahasia doong", jawab kakak. Inilah kakak sepupu saya yang begitu mendorong saya untuk memakai jilbab.  Tetapi tetap saja menunda niatku untuk memakai jilbab.

             Minggu itu di kampus ada sebuha acara mentoring yang mengharuskan saya untuk memakai jilbab. Ya, saya memakai jilbab dan komentar teman-teman wanita saya cuma “Cantik”, ayo terusin pakai jilbabnya. Saya hanya tersenyum saja. Untungnya bukan laki-laki yang ngomong seperti itu, soalnya saya selalu melontarkan kata gombal bila ada laki-laki yang mengatakan “cantik”. Niat saya semakin kuat untuk memakai jilbab ukhti. Dan semakin kuat lagi saat mendengarkan ceramah di acara mentoring yang diisi oleh teh Ninih Mutmainnahyang menceritakan tentang wanita berjilbab. Pas sekali dengan keadaanku waktu itu yang lagi galau untuk memakai jilbab. 

              Senin, ada mata kuliah agama. Niat saya untuk memakai jilbab waktu kuliah sampai selesai kuliah, mengerjakan tugas, keluar rumah pun jilbab masih saya pakai. Tenang rasanya memakai jilbab, tidak seburuk yang saya bayangkan. Mulai hari itu juga saya memutuskan untuk memakai jilbab. Saya tinggalkan job, Saya tinggalkan baju untuk adik-adik saya. Tanpa paksaan dan tanpa sepengetahuan orang, saya memutuskan untuk memakai jilbab. Masih teringat begitu jelas waktu itu saya hanya bermodalkan 1 jilbab berwarna putih saja hehe . tapi tidak mengurungkan niat saya untuk memakai jilbab :)

Berkah memakai jilbab

Dari sebelum berjilbab, saya suka nge-blog yang berisi itu-itu saja. Setelah berjilbab, saya sering sekali browsing para designer berjilbab yang tetap stylish. Senang rasanya melihat wanita berjilbab tapi tetap syar’i dan cantik. Sejak itu saya menulis blog tentang fashion, walaupun sebenarnya saya tidak begitu pintar tentang fashion. Tapi alhasil, banyak respon positif dari teman-teman saya tentang fashion blog saya dan beberapa teman saya meminta untuk mengajarkan cara berjilbab dengan caraku sendiri. Alhamdulillah, senang rasanya bisa menjadi orang yang berguna bagi orang lain yang sebelumnya belum pernah saya rasakan. Saya percaya, kesiapan setiap orang itu berbeda-beda. Tidak bisa memaksa seseorang untuk langsung berjilbab. Ujung-ujungnya mereka hanya lepas pakai lepas pakai saja. Yang bisa saya lakukan hanya meyakinkan ukhti-ukhti yang belum berjilbab bahwa berjilbab itu indah, nyaman, mencegah untuk tidak melakukan hal yang negatif.

Berjilbab itu kuno ?

Hey ukhti, siapa bilang berjilbab itu kuno? Lebih milih mana antara cantik di mata orang lain atau cantik di mata Allah? Berjilbab tetap stylish juga bisa ukhti. Lihat saja seperti Hana Tajima Simpson, Dian pelangi. Eh tapi ingat, berjilbab yg sebenarnya ya ukhti, salah satunya seperti firman Allah S.W.T dalam surat An Nur ayat 31 “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

Berjilbab itu sudah kewajiban bagi wanita muslimah untuk menutup auratnya. Bukankah semua wanita itu lebih cantik dan lebih anggun dengan berjilbab? Selama ini saya belum mengalami kesulitan dalam berjilbab, tetapi proses menuju berjilbabnya lah yang sangat sulit.

Saya sangat berterima kasih kepada orang-orang yang mendukung saya untuk berjilbab. Terima Kasih yang sudah membacanya. Semoga bermanfaat dan membantu meyakinkan ukhti yang masih ragu-ragu untuk berjilbabJ

Wassalammualaikum..

Salam,
xoxo
streethijab